Pengertian Ilmu pengetahuan
Ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki,
menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan
dalam alam manusia.
Beberapa pendapat para ahli tentang ilmu pengetahuan :
Harold H. Titus mendefinisikan
“Ilmu (Science) diartikan sebagai common science yang diatur dan
diorganisasikan, mengadakan pendekatan terhadap benda-benda atau
peristiwa-peristiwa dengan menggunakan metode-metode observasi yang teliti dan
kritis).
Dr.
Mohammad Hatta mendefinisikan “Tiap-tiap ilmu pengetahuan yang teratur
tentang pekerjaan kausal dalam satu golongan masalah yang sama tabiatnya, baik
menurut kedudukannya tampak dari luar maupun menurut bangunannya dari dalam.”
1.
Habarer mendefinisikan “ Suatu hasil aktivitas
manusia yang merupakan kumpulan teori, metode dan praktek dan menjadi pranata
dalam masyarakat”. Louis Leahy mendefinisikan “Pengetahuan merupakan
suatu kekayaan dan kesempurnaan. Seseorang yang tahu lebih banyak adalah lebih
baik kalau dibanding dengan yang tidak tahu apa-apa
The
Liang Gie mendefinisikan “Ilmu sebagai pengetahuan, artinya ilmu adalah
sesuatu kumpulan yang sistematis, atau sebagai kelompok pengetahuan teratur
mengenai pokok soal atau subject matter. Dengan kata lain bahwa pengetahuan
menunjuk pada sesuatu yang merupakan isi substantif yang terkandung dalam ilmu.
1.
Karakteristik Ilmu Pengetahuan
Karakteristik ilmu pengetahuan di
antaranya sebdagai berikut :
o
Konkrit, yaitu dapat diukur kebenarannya.
o
Kehadiran objek dan subjek tidak dapat dipisahkan atau
memiliki keterkaitan satu sama lainnya.
o
Tidak terbatas sehingga masih banyak ilmu pengetahuan
yang harus digali lagi dan tidak mempunyai keterbatasan tertentu.
4) Metodologi yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan
5) Rasionalis ;
Penalarannya berdasarkan ide yang dianggap jelas dan dapat diterima oleh
akal.
6.) Wahyu ; Tidak menggunakan
penalaran, tetapi menggunakan wahyu sebagai sumber pengetahuan.
7) Hasil ilmu bersifat
akumulatif dan merupakan milik bersama
8) Kebenarannya tidak
mutlak dan bisa terjadi kekeliruan
9) Obyektif tidak bergantung pada pemahaman secara pribadi
2.
Ciri-Ciri Ilmu Pengetahuan
Menurut The Liang Gie (1987) ilmu
pengetahuan mempunyai 5 ciri pokok yaitu :
1) Empiris, pengetahuan itu diperoleh
berdasarkan pengamatan dan percobaan
2) Sistematis, berbagai keterangan dan
data yang tersusun sebagai kumpulan pengetahuan itu mempunyai hubungan
ketergantungan dan teratur
3) Objektif, ilmu berarti pengetahuan
itu bebas dari prasangka perseorangan dan kesukaan pribadi
4) Analitis, pengetahuan ilmiah berusaha
membeda-bedakan pokok soalnya ke dalam bagian yang terperinci untuk memahami
berbagai sifat, hubungan, dan peranan dari bagian-bagian itu
5) Verifikatif, dapat diperiksa
kebenarannya oleh siapa pun juga.
Menurut Ismaun (2001) mengetengahkan
sifat atau ciri-ciri ilmu sebagai berikut :
1.
Obyektif; ilmu berdasarkan hal-hal yang obyektif,
dapat diamati dan tidak berdasarkan pada emosional subyektif,
2.
Koheren; pernyataan/susunan ilmu tidak kontradiksi
dengan kenyataan;
3.
Reliable; produk dan cara-cara memperoleh ilmu
dilakukan melalui alat ukur dengan tingkat keterandalan (reabilitas) tinggi,
4.
Valid; produk dan cara-cara memperoleh ilmu dilakukan
melalui alat ukur dengan tingkat keabsahan (validitas) yang tinggi, baik secara
internal maupun eksternal,
5.
Memiliki generalisasi; suatu kesimpulan dalam ilmu
dapat berlaku umum,
6.
Akurat; penarikan kesimpulan memiliki keakuratan (akurasi)
yang tinggi, dan
7.
Dapat melakukan prediksi; ilmu dapat memberikan daya
prediksi atas kemungkinan-kemungkinan suatu hal.
3.
Syarat-Syarat Ilmu :
Suatu pengetahuan dapat dikatakan sebagai ilmu apabila dapat memenuhi
persyaratan-persyaratan, sebagai berikut
1.
Ilmu mensyaratkan adanya obyek yang diteliti, baik
yang berhubungan dengan alam (kosmologi) maupun tentang manusia
(Biopsikososial).
2.
Ilmu mensyaratkan adanya metode tertentu, yang di
dalamnya berisi pendekatan dan teknik tertentu.
3.
Pokok permasalahan (subject
matter atau focus of interest). ilmu mensyaratkan adanya pokok
permasalahan yang akan dikaji.
Jadi seluruh bentuk ilmu pengetahuan dapat digolongkan kedalam kategori
ilmu pengetahuan dimana masing-masing bentuk dapat dicirikan oleh
karakterristik obyek ontologis, landasan epistemologis, dan landasan
aksiologis.
Salah satu dari bentuk ilmu pengetahuan ditandai dengan :
1.
Obyek Ontologis : yaitu pengalaman manusia yakni
segenap wujud yang dapat dijangkau lewat panca indra atau alat yang membantu
kemampuan panca indra.
2.
Landasan Epistemologis : metode ilmiah yang berupa
gabungan logika deduktif dengan pengajuan hipotesis atau yang disebut logico
hypotetico verifikasi.
3.
Landasan Aksiologis : kemaslahatan umat manusia
artinya segenap wujud ilmu pengetahuan itu secara moral ditujukan untuk
kebaikan hidup manusia.
D.Peranan filsafat dalam Ilmu pengetahuan
Semakin banyak manusia tahu, semakin banyak pula pertanyaan yang timbul
dalam dirinya. Manusia ingin tahu tentang asal dan tujuan hidup, tentang
dirinya sendiri, tentang nasibnya, tentang kebebasannya, dan berbagai hal
lainnya. Sikap seperi ini pada dasarnya sudah menghasilkan pengetahuan yang
sangat luas, yang secara metodis dan sistematis dapat dibagi atas banyak jenis
ilmu.
Ilmu-ilmu pengetahuan pada umumnya membantu manusia dalam mengorientasikan
diri dalam dunia dan memecahkan berbagai persoalan hidup. Berbeda dari
binatang, manusia tidak dapat membiarkan insting mengatur perilakunya. Untuk
mengatasi masalah-masalah, manusia membutuhkan kesadaran dalam memahami
lingkungannya. Di sinilah ilmu-ilmu membantu manusia mensistematisasikan apa
yang diketahui manusia dan mengorganisasikan proses pencariannya.
Pada abad modern ini, ilmu-ilmu pengetahuan telah
merasuki setiap sudut kehidupan manusia. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena
ilmu-ilmu pengetahuan banyak membantu manusia mengatasi berbagai masalah
kehidupan. Prasetya T. W. dalam artikelnya yang berjudul “Anarkisme dalam Ilmu
Pengetahuan Paul Karl Feyerabend” mengungkapkan bahwa ada dua alasan mengapa
ilmu pengetahuan menjadi begitu unggul.Pertama, karena ilmu pengetahuan
mempunyai metode yang benar untuk mencapai hasil-hasilnya. Kedua, karena
ada hasil-hasil yang dapat diajukan sebagai bukti keunggulan ilmu
pengetahuan. Dua alasan yang diungkapkan Prasetya tersebut, dengan jelas
menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan memainkan peranan yang cukup penting dalam
kehidupan umat manusia.
Akan tetapi, ada pula tokoh yang justru anti terhadap
ilmu pengetahuan. Salah satu tokoh yang cukup terkenal dalam hal ini adalah
Paul Karl Feyerabend. Sikap anti ilmu pengetahuannya ini, tidak berarti anti
terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri, tetapi anti terhadap kekuasaan ilmu
pengetahuan yang kerap kali melampaui maksud utamanya. Feyerabend menegaskan
bahwa ilmu-ilmu pengetahuan tidak menggunguli bidang-bidang dan bentuk-bentuk
pengetahuan lain. Menurutnya, ilmu-ilmu pengetahuan menjadi lebih unggul karena
propaganda dari para ilmuan dan adanya tolak ukur institusional yang diberi
wewenang untuk memutuskannya.
Sekalipun ada berbagai kontradiksi tentang keunggulan ilmu pengetahuan,
tidak dapat disangkal bahwa ilmu pengetahuan sesungguhnya memberikan pengaruh
yang besar dalam kehidupan masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari peranan ilmu
pengetahuan dalam membantu manusia mengatasi masalah-masalah hidupnya, walaupun
kadang-kadang ilmu pengetahuan dapat pula menciptakan masalah-masalah baru.
Meskipun demikian, pada kenyataannya peranan ilmu pengetahuan dalam
membantu manusia mengatasi masalah kehidupannya sesungguhnya terbatas. Seperti
yang telah diungkapkan pada bagian pendahuluan, keterbatasan itu terletak pada
cara kerja ilmu-ilmu pengetahuan yang hanya membatasi diri pada tujuan atau
bidang tertentu. Karena pembatasan itu, ilmu pengetahuan tidak dapat menjawab
pertanyaan-pertanyaan tentang keseluruhan manusia. Untuk mengatasi masalah ini,
ilmu-ilmu pengetahuan membutuhkan filsafat. Dalam hal inilah filsafat menjadi
hal yang penting.
C.Verhaak dan R.Haryono Imam dalam bukunya yang
berjudul Filsafat Ilmu Pengetahuan: Telaah Atas Cara Kerja Ilmu-ilmu, menjelaskan
dua penilaian filsafat atas kebenaran ilmu-ilmu. Pertama, filsafat
ikut menilai apa yang dianggap “tepat” dan “benar” dalam ilmu-ilmu. Apa yang
dianggap tepat dalam ilmu-ilmu berpulang pada ilmu-ilmu itu sendiri. Dalam hal
ini filsafat tidak ikut campur dalam bidang-bidang ilmu itu. Akan tetapi,
mengenai apa kiranya kebenaran itu, ilmu-ilmu pengetahuan tidak dapat
menjawabnya karena masalah ini tidak termasuk bidang ilmu mereka. Hal-hal yang
berhubungan dengan ada tidaknya kebenaran dan tentang apa itu kebenaran dibahas
dan dijelaskan oleh filsafat.Kedua, filsafat
memberi penilaian tentang sumbangan ilmu-ilmu pada perkembangan pengetahuan
manusia guna mencapai kebenaran.
Dari
dua penilaian filsafat atas kebenaran ilmu-ilmu di atas, dapat dillihat bahwa
ilmu-ilmu pengetahuan (ilmu-ilmu pasti) tidak langsung berkecimpung dalam usaha
manusia menuju kebenaran. Usaha ilmu-ilmu itu lebih merupakan suatu sumbangan
agar pengetahuan itu sendiri semakin mendekati kebenaran. Filsafatlah yang
secara langsung berperan dalam usaha manusia untuk mencari kebenaran. Di dalam
filsafat, berbagai pertanyaan yang berhubungan dengan kebenaran dikumpulkan dan
diolah demi menemukan jawaban yang memadai.
Franz
Magnis Suseno mengungkapkan dua arah filsafat dalam usaha mencari jawaban dari
berbagai pertanyaan sebagai berikut: pertama, filsafat harus
mengkritik jawaban-jawaban yang tidak memadai. Kedua, filsafat harus
ikut mencari jawaban yang benar. Kritikan dan
jawaban yang diberikan filsafat sesungguhnya berbeda dari jawaban-jawaban lain
pada umumnya. Kritikan dan jawaban itu harus dapat dipertanggungjawabkan secara
rasional.
Pertanggungjawaban
rasional pada hakikatnya berarti bahwa setiap langkah harus terbuka terhadap segala
pertanyaan dan sangkalan, serta harus dipertahankan secara argumentatif dengan
argumen-argumen yang objektif. Hal ini berarti bahwa kalau ada yang
mempertanyakan atau menyangkal klaim kebenaran suatu pemikiran, pertanyaan dan
sangkalan itu dapat dijawab dengan argumentasi atau alasan-alasan yang masuk
akal dan dapat dimengerti.
Dari berbagai penjelasan di atas, tampak jelas bahwa filsafat selalu
mengarah pada pencarian akan kebenaran. Pencarian itu dapat dilakukan dengan
menilai ilmu-ilmu pengetahuan yang ada secara kritis sambil berusaha menemukan
jawaban yang benar. Tentu saja penilaian itu harus dilakukan dengan
langkah-langkah yang teliti dan dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.
Penilaian dan jawaban yang diberikan filsafat sendiri, senantiasa harus terbuka
terhadap berbagai kritikan dan masukan sebagai bahan evaluasi demi mencapai
kebenaran yang dicari.
Inilah yang menunjukkan kekhasan filsafat di hadapan berbagai ilmu
pengetahuan yang ada. Filsafat selalu terbuka untuk berdialog dan bekerjasama
dengan berbagai ilmu pengetahuan dalam rangka pencarian akan kebenaran. Baik
ilmu pengetahuan maupun filsafat, bila diarahkan secara tepat dapat sangat
membantu kehidupan manusia.
Membangun ilmu pengetahuan diperlukan konsistensi yang terus berpegang pada
paradigma yang membentuknya. Kearifan memperbaiki paradigma ilmu
pengetahuan nampaknya sangat diperlukan agar ilmu pengetahuan seiring dengan
tantangan zaman, karena ilmu pengetahuan tidak hidup dengan dirinya sendiri,
tetapi harus mempunyai manfaat kepada kehidupan dunia
Hampir semua kemampuan pemikiran (thought) manusia
didominasi oleh pendekatan filsafat. Pengetahuan manusia yang dihasilkan
melalui proses berpikir selalu digunakannya untuk menyingkap tabir
ketidaktahuan dan mencari solusi masalah kehidupan.antara ilmu Pengetahuan dan
ilmu Filsafat ada persamaan dan perbedaannya.Ilmu Pengetahuan
bersifat Posterior kesimpulannya ditarik setelah melakukan pengujian-pengujian
secara berulang-ulang sedangkan Filsafat bersifat priori kesimpulannya ditarik
tanpa pengujian,sebab Filsafat tidak mengharuskan adanya data empiris seperti
yang dimiliki ilmu karena Filsafat bersifat Spekulatif.Disamping adanya
perbedaan antara ilmu dengan filsafat ada sejumlah persamaan yaitu sama-sama
mencarikebenaran.Ilmu memiliki tugas
melukiskan filsafat bertugas untuk menafsirkan kesemestaan aktivitas ilmu
digerakkan oleh pertanyaan bagaimana menjawab pelukisan fakta sedangkan
filsafat menjawab atas pertanyaan lanjutan bagaimana sesungguhnya fakat itu
darimana awalnya dan akan kemana akhirnya.