Jumat, 04 November 2016

Formulasi Masalah Dalam Penelitian



Pengertian Rumusan Masalah adalah usaha untuk menyatakan secara tersurat pertanyaan penelitian apa saja yang perlu dijawab atau dicarikan jalan pemecahan masalahnya. Rumusan masalah merupakan suatu penjabaran dari identifikasi masalah dan pembatasan masalah. Dengan kata lain, rumusan masalah ini merupakan pertanyaan yang lengkap dan rinci mengenai ruang lingkup masalah yang akan diteliti didasarkan atas identifikasi masalah dan pembatasan masalah. Suatu perumusan masalah yang baik berarti telah menjawab setengah pertanyaan atau dari masalah. Masalah yang telah dirumuskan dengan baik, tidak hanya membantu memusatkan pikiran, sekaligus juga mengarahkan cara berpikir kita.

A. Tujuan Utama Penelitian Ilmiah
yaitu untuk mencari hubungan atau membedakan dua variabel atau lebih secara konsepsional. Oleh karena itu, rumusan masalah sebaiknya dikaitkan dengan tujuan tersebut. Peneliti sebaiknya menggunakan kata-kata hubungan atau perbedaan, contohnya yaitu korelasi. Karena korelasi merupakan terminologi statistika.

B. Model Perumusan Masalah
Menurut Garis Besarnya, rumusan masalah dapat dibagi atas rumusan masalah deskriptif, rumusan masalah komparatif dan juga rumusan masalah asosiatif. Contoh-contoh rumusan masalah yang dimaksud sebagai berikut.
1. Deskriptif
.          Rumusan masalah deskriptif
Merupakan suatu rumusan masalah yang memandu peneliti untuk mengeksplorasi dan atau memotret situasi sosial yang akan diteliti secara menyeluruh, luas dan mendalam.
– Berapa persen tingkat disiplin kerja di peternakan A ?
– Seberapa jauh efektivitas kerja di peternakan A ?

2. Komparatif
Rumusan masalah komparatif
Merupakan rumusan masalah yang memandu peneliti untuk membandingkan antara konteks sosial atau domain satu dibandingkan dengan yang lain.
– Bagaimana perbedaan disiplin kerja di peternakan A dengan di peternakan B ?
– Apakah terdapat perbedaan efektivitas kerja di peternakan A dengan peternakan B ?

3. Asosiatif
.           Rumusan masalah assosiatif
Merupakan hubungan rumusan masalah yang memandu peneliti untuk mengkonstruksi hubungan antara situasi sosial atau domain satu dengan yang lainnya. Rumusan masalah assosiatif dibagi menjadi tiga yaitu, hubungan simetris, kausal dan reciprocal atau interaktif. Hubungan kausal adalah hubungan yang bersifat sebab akibat. Selanjutnya hubungan interaktif adalah hubungan yang saling mempengaruhi. Dalam penelitian kualitatif hubungan yang diamati atau ditemukan adalah hubungan yang bersifat reciprocal atau interaktif.
Dalam penelitian kuantitatif, ketiga rumusan masalah tersebut terkait dengan variable penelitian, sehingga rumusan masalah penelitian sangat spesifik, dan akan digunakan sebagai panduan bagi peneliti untuk menentukan landasan teori, hipotesis, insrumen, dan teknik analisis data. Oleh karena itu, rumusan masalah yang merupakan fokus penelitian masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti masuk lapangan atau situasi sosial tertentu. Namun demikian, setiap peneliti baik peneliti kuantitatif mau pun kualitatif tetap harus membuat rumusan masalah. Pertanyaan penelitian kualitatif di rumuskan dengan maksud untuk memahami gejala yang kompleks dalam kaitannya dengan aspek-aspek lain (in context). Peneliti yang meggunakan pendekatan kualitatif, pada tahap awal penelitiannya akan mengembangkan fokus penelitian sambil mengumpulkan data. Proses seperti ini disebut “emergent design”. Namun yang jelas, tidak ada keseragaman model rumusan masalah dalam penyajian, karena para peneliti berasal dari berbagai macam disiplin ilmu dengan beragam latar belakang metodologi penelitian.
– Apakah terdapat hubungan antara peternakan A dan peternakan B ?
– Bagaimana hubungan antara peternakan A dan peternakan B ?
Beberapa contoh kesalahan kesalahan umum yang sering terjadi di dalam merumuskan masalah.
1. Berusaha mengumpulkan data tanpa perencanaan yang matang dengan harapan sesuatu pasti akan dapat timbul dari analisis.
2. Menggunakan data yang sudah dikumpulkan atau yang telah ada, kemudian dilanjutkan dengan mencari masalah yang kira kira cocok dengan data yang ada.
3. Merumuskan tujuan secara mengambang atau terlalu umum sehingga kesimpulannya juga bersifat umum. Akibatnya, tujuan menjadi kurang terpusat.
4. Melaksanakan penelitian tanpa mengadakan kajian pustaka terhadap penelitian lainnya yang relevan.
5. Melakukan penelitian ad-hoc, unik untuk suatu situasi khusus sehingga tidak memungkinkan perluasan (generalisasi) dan tidak menghasilkan sumbungan berarti dalam memajukan ilmu.
6. Melakukan penelitian tanpa landasan teori yang mapan untuk memberi kesempatan membandingkan hasilnya dan mengevaluasi kesimpulannya.
7. Dalam merumuskan hipotesis tidak mengkaji secara tuntas adanya kemungkinan hipotesis tandingan yang dapat menjaga interpretasi atau kesimpulan penelitian.
8. Tidak menyadari kekurangan metodologi penelitian yang digunakan, sehingga yang terjadi dapat membatasi penafsiran kesimpulan penelitian.

 C.     Analisis Perumusan Masalah
Penelitian yang dilakukan, agar dapat berjalan dengan baik, maka masalah yang telah dipilih sebaiknya dianalisis terlebih dahulu dari segi proses ataupun tujuannya. Analisis itu dapat dilihat dalam perspektif subtansi, teori dan metode, juga proses penelitian dan manfaatnya. Suprayogo dan Tobroni,mengemukakan bahwa sekurang-kurangnya terdapat lima hal perlu dianalisis dari permasalahan penelitian, yaitu:
Pertama, analisis terhadap substansi dari masalah itu sendiri. Masalah yang dipilih memiliki relevansi akademik dalam arti termasuk bidang keilmuan apa; misalnya sosiologi, antropologi, manajemen, teologi, hukum dan sebagainya. Dengan mengetahui kedudukan masalah dalam konteks keilmuan yang ada, peneliti dapat menelusuri dan mendalami permasalahan itu dan menempatkannya dalam pokok bahasan atau sub pokok bahasan bidang ilmu tersebut.
Kedua, analisis teori dan metode. Masalah yang dipilih hendaknya dapat dicari rujukan kepustakaan, perspektif teoritik, dan metodenya. Dengan pertimbangan ini dapat ditelusuri kajian kepustakaan baik berupa jurnal, maupun hasil penelitian terdahulu sehingga peneliti akan semakin tajam dan terarah dalam membangun pisau analisanya terhadap fokus penelitiannya. Sementara perspektif teoritik bermanfaat bagi peneliti agar memiliki starting point dan  point of view yang jelas sehingga dapat semakin peka dan kritis dalam mencermati setiap fenomena yang berkaitan dengan penelitiannya.
Ketiga, analisis intitusional. Jenis, bobot dan tujuan penelitian hendaknya disesuaikan dengan institusi dimana peneliti mempersembahkan hasil penelitiannya. Penelitian untuk persyaratan gelar akademik tentu berbeda dengan penelitian pesanan atau penelitian tindakan (action research).
Keempat, analisis metodologis. Masalah yang diangkat hendaklah terjangkau, baik dari aspek metode pengumpulan data maupun datanya sendiri. Penelitian yang melibatkan kaum elite atau pejabat biasanya akan lebih sulit jika dibandingkan dengan masyarakat awam. Itulah sebabnya hasil penelitian tentang elite, baik dalam bidang politik, ekonomi, agama, hukum dan sebagainya lebih sedikit jumlahnya.
Kelima, masalah yang diangkat hendaklah yang actual disamping berarti dan bermakna. Peneliti hendaklah menghindari masalah-masalah yang sudah banyak diteliti. Masalah-masalah yang sepertinya menarik tetapi tidak fungsional, baik bagi peneliti, institusi, masyarakat maupun pengembangan ilmu, sebaiknya ditinggalkan.

D.     Langkah-langkah dalam Perumusan Masalah
Untuk mendapatkan hasil penelitian yang sistematis, maka rumusan masalah hendaknya juga disusun secara sistematis pula. Adapun langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam perumusan masalah penelitian dalam pandangan Moleong adalah sebagai berikut:
                        Langkah 1    : Menentukan fokus penelitian.
                        Langkah 2    :    Mencari berbagai kemungkinan factor yang ada kaitannya dengan focus tersebut yang dalam hal ini dinamakan subfokus.
                        Langkah 3    :    Dari antara factor-faktor yang terkait, adakan pengkajian mana yang sangat menarik untuk ditelaah, kemudian tetapkan mana yang dipilih.
                        Langkah 4    : kaitkan secara logis factor-faktor subfokus yang dipilih dengan focus penelitian
Perumusan masalah dalam penelitian semestinya memang harus dipertimbangkan secara matang baik faktor objektifnya maupun subjektifnya, lalu kemudian dievaluasi secara cermat terhadap aspek ontologinya (hakikat/substansi), epistemologinya (bagaimana menjangkau dan memecahkannya), dan terlebih penting adalah aspek aksiologi (kegunaan) dari masalah yang dipilih, sehingga pada gilirannya hasil penelitian dapat memiliki tempat dalam bangunan bidang pengetahuan yang diteliti dalam rangka mengisi kekosongan, memantapkan, melengkapi atau mengevaluasi hasil penelitian sebelumnya. Dengan demikian, hasil pengetahuan memiliki kontribusi dan relevansi bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
.
Sumber Buku Dalam Penulisan Apa itu Rumusan Masalah :
– Husaini Usman dan Purnomo, 2008. Metodologi Penelitian Sosial. Penerbit PT Bumi Aksara : Jakarta.
      Muhadjir, Noeng. Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi III. Yogyakarta: Rake Sarasin, 1998.hal.86
      Suprayogo, Imam dan Tobroni. Metodologi Penelitian Sosial-Agama. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2003.hal.44
      Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006.hal.119

Tidak ada komentar:

Posting Komentar